Skip to main content

BAB 9
( DINAMIKA KEBUDAYAAN DITINJAU DARI PERKEMBANGAN ARSITEKTUR DI INDONESIA )

·         PERKEMBANGAN ARSITEKTUR DI INDONESIA :
1. Masa Kolonialisme
      Arsitektur kolonial Belanda di Indonesia dibangun di seluruh Nusantara yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda. Sebagian besar bangunan era kolonial yang lebih baik dan permanen terdapat di Jawa dan Sumatra, yang secara ekonomi dianggap lebih penting selama masa penjajahan Belanda. Akibatnya, lebih banyak bangunan kolonial yang bertahan masih terdapat di kedua pulau tersebut. Banyak benteng dan gudang era VOC lama tersebar di seluruh Nusantara, terutama di sekitar Kepulauan Maluku dan Sulawesi. Setibanya di Hindia Timur, arsitektur Belanda terutama berasal dari pengetahuan dan keahlian dari negara asal. Pada kebanyakan kasus, bangunan pertukangan batu disukai pada sebagian besar konstruksi mereka. Sebelumnya, kayu dan produk sampingannya hampir secara eksklusif digunakan di Hindia, kecuali beberapa arsitektur keagamaan dan istana utama. Selama periode awal kolonisasi, koloni-koloni Belanda terutama diperintah oleh VOC, yang terutama memerhatikan fungsionalitas bangunannya daripada membuat bangunan sebagai ekshibisi bergengsi.
Salah satu permukiman Belanda besar yang pertama adalah Batavia (Jakarta saat ini), yang pada abad ke-17 dan ke-18 adalah kota batu bata dan pertukangan batu berbenteng yang dibangun di atas dataran rendah. Permukiman Belanda pada abad ke-17 umumnya intra-muros, dengan pertahanan bertembok untuk melindungi mereka dari serangan oleh rival perdagangan Eropa lainnya dan pemberontakan penduduk pribumi. Benteng itu merupakan pangkalan militer dan pusat perdagangan dan pemerintahan. Kota ini ditata ke dalam sebuah kisi-kisi dengan blok-blok yang dibagi oleh kanal-kanal, lengkap dengan sebuah Balai Kota dan Gereja-gereja, seperti setiap kota Belanda lainnya pada saat itu. Rumah-rumah di Batavia digambarkan "cukup tinggi dengan fasad sempit dan dinding berplester disisipi dengan jendela sengkang yang dilengkapi anyaman rotan untuk ventilasi". Dan seperti di Belanda, mereka sebagian besar merupakan rumah bertingkat dengan halaman kecil. Perilaku serupa dalam perencanaan dan arsitektur kota dapat dilihat dalam pembangunan pelabuhan VOC di Semarang pada abad ke-18.
Selama hampir dua abad, para kolonis tidak banyak menyesuaikan kebiasaan arsitektur Eropa mereka dengan iklim tropis. Di Batavia, misalnya, mereka membangun kanal melalui dataran rendahnya, yang digawangi oleh rumah baris berjendela kecil dan berventilasi buruk, kebanyakan bergaya campuran Tionghoa-Belanda. Kanal-kanal tersebut menjadi tempat pembuangan untuk limbah berbahaya dan kotoran dan tempat berkembang biak yang ideal untuk nyamuk anopheles, dengan malaria dan [disentri]] menyebar ke seluruh ibu kota kolonial Hindia Belanda. Dan pada paruh kedua abad ke-17, penduduk di dalam Batavia bertembok mulai membangun properti dan vila luar kota yang besar sepanjang Kanal Molenvliet, contoh terbaik yang bertahan adalah bekas rumah besar Reyner de Klerk yang dibangun dengan gaya Eropa yang kaku.
      2. Masa Setelah Kemerdekaan
           Selama perang dunia ke II, kekayaan arsitektur di Indonesia (di kota-kota) tidak mengalami kerusakan yang parah, bila dibandingkan dengan kehancuran kota-kota di Jepang atau di berbagai negara di Eropa. ‘Pemerkosaan’ arsitektur justru terjadi seperempat abad kemudian yaitu ketika bangunan-bangunan yang bergaya kolonial dirombak paksa tampak depannya, demi mengikuti gaya arsitektur ‘muktakhir’.
Perombakkan – perombakkan seperti itu telah melahirkan lebih banyak bentuk-bentuk yang dipaksa dan tidak rasional daripada menghasilkan bentuk yang dari segi keindahan lebih menarik.
Ketika masa revolusi sedang hangatnya memang terjadi kehancuran dan kerusakan dari sejumlah gedung-gedung penting. Pembangunannya kembali berlangsung sangat lambat karena keadaan negara yang sedang dalam musim pancaroba. Namun dari segi lain, ada titik-titik cerah bagi perkembangan arsitektur, umpamanya di tahun-tahun peralihan (1945-1949) ketika kekuasaan RepublikIndonesia menjadi mutlak diakui oleh Belanda.
Sejak saat itu dan seterusnya selama 4 windu Merdeka perkembangan arsitektur Indonesia, seakan-akan terpusat di Jakarta. Boleh kita pandang, bahwa pangkal perkembangan arsitektur tersebut dimulai tahun 1948 ketika kota satelit Kebayoran Baru menjadi kenyataan. Pembangunna kota baru di selatan Jakarta itu sangat penting artinya dari segi arsitektur karena perluasan kota tersebut menumbuhkan berbagai gaya bangunan rumah,gedung-gedung umum dsb.
Gaya-gaya yang dikembangkan bertitik berat pada ‘meng-Indonesia-kan’ sebagai identitas baru Indonesia Merdeka, berlangsung di segala bidang kehidupan masyarakat Indonesia. Para perencana rumah dan bangunan-bangunan, kebanyakan masih angkatan yang berlatar belakang pendidikan Belanda, bahkan banyak arsitek-arsitek Belanda yang turut aktif dalam proyek pembangunan tersebut.
Peng-Indonesiaan gaya arsitektur di tahun 50-an umumnya menonjolkan bentuk atap yang ‘khas’ Indonesia dengan bentuknya yang lebih sederhana dibanding gaya arsitektur Belanda. Contoh karya sekitar tahun 1950-an ini antara lain kantor pusat Bank Pembangunan Industri di Jakarta dan sekitar tahun 1960-an dibangun kantor Pusat Bank Indonesia di jalan Thamrin Jakarta.

Comments

Popular posts from this blog

BAB IV (DINAMIKA KEBUDAYAAN DITINJAU DARI SUDUT PANDANG SEJARAH) Kebudayaan Pra Sejarah Zaman batu adalah suatu periode ketika peralatan manusia secara dominan terbuat dari batu Paleolitikum terdiri dari dua kata yaitu kata paleos yang mempunyai arti tua dan kata litikum yang berasal dari kata litos yang mempunyai arti batu.Dalam zaman ini alat-alat yang dihasilkan masih sangat kasar (tidak diasah atau dipolis) karena hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup saja.Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kira-kira tahun yang lalu, yaitu selama masa pleistosen (diluvium).Pada zaman paleolithikum ini, alat-alat yang mereka hasilkan masih sangat kasar. Manusia pendukung zaman ini adalah Pithecantropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus Paleojavanicus dan Homo Soloensis, fosilnya Fosil-fosil ini ditemukan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo.Mereka memiliki kebudayaan Pacitan dan Ngandong. Kebudayaan Pacitan pada tahun 1935, Von Koenigswald menemukan alat-alat batu dan kapa...
BAB I (ARSITEKTUR DAN KEBUDAYAAN) ARSITEKTUR SEBAGAI HASIL KEBUDAYAAN Menurut pandangan saya, bangunan yang sudah bersejarah panjang merupakan bangunan yang memiliki karaktekteristik tersendiri dalam sejarahnya. Bangunan tersebut di niliai penting karena memiliki peninggalan pada jamannya, sehingga menjadikan bangunan tersebut sebagai hasil kebudayaan pada jaman tersebut. PENGERTIAN DAN FILOSOFI KEBUDAYAAN A) Pengertian Kebudayaan       Kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta “buddhayah” bentuk jamak dari “budhi” dengan arti budhi atau akal, oleh karena itu kebudayaan dapat diartikan dengan segala hal  yang bersangkutan dengan akal. Budaya dapat pula berarti sebagai hasil pengembangan dari kata majemuk budi dan daya, yang berarti daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak da...

Peran Penting Menhadapi Suatu Keadaan

Peran Penting Menghadapi Suatu Keadaan  Dalam suatu peristiwa ketika anda dihadapkan suatu keadaan senang, sedih, tegang, marah. Apa yang harus anda lakukan? Dengan spontan anda akan langsung mengekspresikannya sesuai dengan bahasa tubuh kalian. Dalam Blog ini saya akan memberikan anda beberapa peran penting untuk menhadapi suatu keadaan di lingkungan sekitar. 1. Hal Sedih Dilawan Dengan Gembira !  ketika kalian dihadapi dengan rasa tidak bahagia dan merasa murung hal itu bertanda kamu sedang mengalami kesedihan dalam pikiran kamu. Biasanya faktor lingkungan sekitar kita yang tidak bisa mau menerima sehingga kita akan mengalami kesedihan.  Hal mendukung melawan kesedihan : - Buatlah kebiasaan baru dalam diri kamu dan mulailah menyukainya - Selalu curhat dengan teman maupun keluarga ketika mengalami kegagalan - Selalu memotivasi diri sehingga kita bisa lebih aktiv dalam menjalani kehidupan 2. Rasa Takut Dilawan Dengan Percaya Diri ! Ada dimana ses...